Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label As Laksana

Catatan Zulfia (5)

Catatan Zulfia (5) Kala mengikuti kelas menulis As Laksana As Laksana dalam salah satu emailnya menyatakan, bahwa apa yang Ia tuliskan adalah sebuah pelatihan untuk kepenulisan fiksi. Meskipun demikian, Ia berharap, para penulis-penulis non fiksi pun tetap bisa bersuka-cita menikmati tulisan-tulisan yang Ia kirimkan via email. Dan inilah yang terjadi pada saya, saya tak berkeinginan untuk menulis sebuah novel ataupun cerita pendek. Imajinasi saya tak cukup tinggi untuk menciptakan tokoh, membangun karakter, memunculkan konflik, sekaligus juga memikirkan penyelesaiannya. Saya tak tertarik ke arah sana. Sederhana saja, saya hanya ingin menuliskan perjalanan saya. Perjalanan yang menurut saya teramat berharga jika hanya dilalui begitu saja. Saya ingin menuliskannya, saya ingin memceritakannya, saya ingin membaginya. Dan karena saya tak begitu suka bicara, maka menulislah jalan satu-satunya. Tapi kemudian saya tersadar, yang akan saya lakukan adalah menceritakan kisah perjalanan s...

Catatan Zulfia (3)

Catatan Zulfia (3)  Kala mengikuti kelas menggambar dengan kalimat As Laksana 19 Juni 2020 Saya suka dan terkesima pada email keenam yang As Sulaksana kirimkan pada saya. Ia menulis tentang kalimat yang bercerita. Ini sebentuk dan sebangun dengan satu hal lain yang juga sedang saya pelajari akhir-akhir ini, yaitu tentang living book, salah satu prinsip belajar metode Charlotte Mason, tapi saya tidak akan membahasnya sekarang, bulan depan barangkali. -           -   - - Kembali ke As Laksana, Ia mengatakan, bahkan tulisan-tulisan non fiksi pun bisa sama kuatnya dengan non fiksi jikalau penulisnya mampu menghidupkan cerita. Ia kemudian mencontohkan tulisan Joan Didion di kumpulan esainya Slouching Towards Bethehem : Ada sesuatu yang tidak mengenakkan di udara Los Angeles siang ini, keheningan yang tak wajar, dan juga ketegangan. Itu berarti malam ini Santa Ana akan mulai bertiup, angin panas dari timur laut akan mer...

Catatan Zulfia (2)

Catatan Zulfia (2) Kala mengikui kelas menggambar dengan kalimat As Laksana Barangkali ada yang bertanya, siapa itu As Laksana. Saya belum lama mengenalnya. Kalau tidak salah ingat, saya mulai mengenal namanya sekitar akhir tahun lalu. Ketika beberapa kawan penggiat homeshooler sekaligus penggiat literasi di laman facebook saya di waktu yang hampir bersamaan mengutarakan kekecewaannya pada keputusan dewan juri sayembara cerita anak yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. As Laksana adalah salah satu dari 3 orang dewan juri yang ditunjuk di sayembara cerita anak tersebut. Di antara ketiganya, As Laksana lah yang berperan sebagai juru bicara. Dari sikap berani, tegas, sekaligus galak dan bertanggungjawab itulah yang kemudian membuat saya menjadi tertarik. Kemudian menelusur ke laman facebooknya dan menemukan tulisan-tulisannya. Di laman - laman media online tempat ia menulis, seperti kumparan atau detik, ia disebutkan sebagai wartawan, sastrawan dan juga kritikus sastra....

Catatan Zulfia (1)

CATATAN ZULFIA (1) (Kala mengikuti Kelas Menggambar dengan Kalimat AS Laksana)  16 Juni 2020 Akhir-akhir ini, setidaknya dua hari terakhir ini, saban pagi, saya berusaha menciptakan rutinitas baru. Mencoba memahami kata demi kata yang dikirimkan AS Laksana via email sekitar sebulan lalu. Dia pernah memberi saran. “Lakukan di waktu yang sama setiap harinya”.   Dan di sinilah saya sekarang. Di kursi merah, di sudut rumah, dengan layar terbuka memaparkan barisan-barisan kata yang Ia kirimkan. Ditemani detak-detak jarum jam yang bergerak terus melaju. Sesekali deru mesin mobil terdengar lirih dari balik jendela. Saya sudah membaca semua tulisan yang ia kirimkan, tapi keterbatasan membuat saya tidak mudah memahaminya. *** 17 Juni 2020 Pagi ini matahari bersinar terang, membuat sisi timur rumah menjadi hangat sekaligus silau. Tirai di samping kursi merah tempatku biasa duduk, aku tutup. Tapi tetap saja, seperti kemarin, aku lebih banyak membaca tini...