Langsung ke konten utama

Postingan

Saya rindu pagi hari, Rindu segala kesibukan di pagi hari, Sarapan sederhana, tanpa api menyala, Kemudian bergegas berbenah sedikit berdandan, Mengayuh sepeda. Saya rindu pagi hari, Menikmati dingin semilir angin Membawa kesejukan Membawa kedamaian Pada hati yang masih saja bergejolak. Sungguh, saya rindu pagi hari..

Panas di Bulan Juli

Ini Juli ketiga saya di Negeri Kincir Angin. Juli 2018. Rumput mengering, pohon-pohon meranggas meloloskan kulit-kulit dan menggugurkan daun-daunnya. Musim Panas yang teramat panas. 35 derajat celcius, bahkan lebih. KNMI (Koninklijk Nederlands Meteorologisch Instituut) atau Badan Meteorologinya Kerajaan Belanda sampai mengeluarkan Kode Orange (Kode Bahaya).  Kode Orange di musim panas adalah sebuah peringatan yang jarang sekali dikeluarkan. Ia beberapa kali dikeluarkan di musin dingin, saat suhu begitu rendah atau kecepatan angin yang begitu tinggi. Tapi saat ini, di musim panas ini, Kode Orange dikeluarkan karena begitu tingginya suhu hingga suhu 35 derajat celcius bahkan lebih, sebuah kisaran suhu yang sangat jarang terjadi di Belanda meskipun di musim panasnya. Suhu di hari rabu kemarin, berkisar di antara 33 hingga 35 C, dan diperkirakan kamis ini dan jumat besok temperatur meningkat hingga suhu 38 C. Pengumuman kondisi bahaya ini, diikuti dengan beberapa himbauan diantar...
Dini hari, tapi suara-suara itu masih jelas bersahutan, diseling derai tawa sesekali. tampaknya  mereka belum mengantuk jua, barangkali lelah, tapi berbincangan malam ini tampak begitu menggelora, hingga mampu mengusir lelah yang sempat singgah sore tadi. Sementara saya sendiri, duduk di salah satu sudut di rumah sepi mencuri waktu malam, sejenak menengok ke dalam relung hati Duhai Hati...apa kabarmu di sana?

Ia, Si Wikipedia berjalan saya...

Anak ini, lama-lama menjadi semacam wikipedia berjalan untuk saya. Ia suka sekali membagikan isi kepalanya pada saya. Salah satu hobinya adalah membaca, meski buku pilihannya terbatas pada topik-topik yang ia sukai semacam peta, negara (geografi), perang (sejarah) dan bola. Siang ini, saat kami makan siang, ia tiba-tiba berkata bahwa hari ini adalah hari terpendek. "Oh ya?" saya bertanya memastikan "Iya, Juf tadi bilang di sekolah" jawabnya "Ini di sini juga ada "De kortste dag van het jaar'" lanjutnya sembari menunjukkan sebuah kalender. Aih, itu kalender yang saya pikir tidak terpakai, sehingga saya pakai tuk corat coret di belakangnya.. Ada satu masa di mana Ia selalu bertanya dan saya tak tahu jawabannya, tentang negara Eritrea, tentang nama pemain bola, tentang siapa lawan siapa di perang dunia 2. Tapi saya tak ingin memutus rasa ingin tahunya, sehingga saya hanya bisa menggiringnya menggunakan google untuk menemukan w...
Suara notifikasi hp di pagi jelang siang ini membuat saya beranjak dari kursi. Sengaja saya jauhkan ia dari jangkauan, Seringkali ragam media sosial yang terpasang di hp mengganggu saya, membuat saya terjebak dalam jurang maya, sehingga saya memilih menjauh saat tersadar. Ternyata, satu kawan mencolek saya via instagram. Duh!! Bukan pada isi gambar yang ia bagikan, tapi colekannya mengingatkan pada satu percakapan pagi kemarin. "Dah dibelikan hp, diajak ke Belanda, mbok narsis dikit!!" "Suami lain mungkin ada yang keberatan istrinya main hp terus, lah ini malah kudu disuruh suruh sampai nangis ini" "Pak Barkah banget sih" Tak kuasa, tertawa juga akhirnya saya ketika nama Ayah saya disebut. "Memang" pendek saya menjawab. "Kenapa sih?" Ia mengejar, "Tanya Pak Barkah!" Jawab saya sambil terus tertawa. Tapi tampaknya ia mulai kesal.. "Update status" satu hal yang mungkin tampak sepele di mata banyak or...

Satu Waktu Ketika Saya Rindu Indonesia

Ini yang membuat saya serasa di rumah, serasa di tanah air sendiri, Indonesia. Lupa dengan dinginnya salju yang turun dua hari lalu, lupa dengan rambut-rambut pirang dan kulit-kulit pucat bertubuh jangkung, lupa dengan beragam bahasa yang silih berganti mampir di telinga, dan sejenak lupa dengan keju dan kentang.  Kami, Ibu-ibu "dependent", Ibu-ibu yang datang ke satu kota kecil di Belanda untuk membersamai suami kami untuk melanjutkan cita-citanya. Atas nama cinta, kami datang ke kota ini, meninggalkan segala kenyamanan di tanah air, dan membangun satu kenyamanan baru di rantau. Ini  salah satunya. Berkumpul, berbagi cerita, bertukar resep masak dan makan bersama, menjadi satu hiburan yang teramat menyenangkan untuk saya. Tentu saja kami bisa melakukannya di hari kerja, karena kami tak bekerja di luar sana. kami bekerja dengan jam kerja kami sendiri, kami belajar dengan jam belajar kami sendiri, hingga memungkinkan bagi kami tuk menentukan satu hari tuk ber...